Oleh: alamsahabat | Mei 8, 2010

Menerapkan “Green Qurban”

Menerapkan “Green Kurban”


Pada hari raya Iedul Adha umat Islam dianjurkan menunaikan dua rakaat shalat sunnah dan dianjurkan pula menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Anjuran menyembelih hewan kurban ini berawal dari kisah Nabi Ibrahim yang diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail.

Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan putra yang sangat dicintainya, Nabi Ismail dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam Al-Quran surat Al Shaffat ayat 102-109.

Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Ketakwaan dalam Ekologi

Pesan-pesan agama sebenarnya tidak untuk agama semata. Melainkan agama untuk kehidupan. Dengan kata lain, pesan-pesan suci dalam Agama hendaknya diejawantahkan dalam kehidupan kita. Kehidupan yang seperti apa? Kehidupan yang selaras dengan alam.

Islam memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik dan tidak membuat kerusakan (QS 7:36;56). Islam juga mengajarkan agar manusia menghormati segala makhluk di bumi karena mereka juga umat seperti halnya manusia (QS 6:38) dan sebagai khalifah manusia telah sanggup menerima amanah, sedangkan makhluk yang lain seperti langit, bumi, dan gunung-gunung enggan menerimanya (QS 33:72).

Apa yang bisa kita lakukan berkaitan dengan hari raya kurban? Salah satu yang bisa dilakukan adalah tidak menggunakan kantong plastik dalam membagi-bagikan daging hewan kurban kepada warga. Kita tahu, kantong plastik tidak bisa terurai di dalam tanah hingga seratus tahun. Bayangkan, begitu banyak kantong plastik dipakai untuk membungkus daging dari sekian ribu ekor sapi dalam satu hari. Apalagi kantong plastik tersebut hanya sekali pakai.

Mari kita hitung, misalkan satu ekor sapi beratnya 150 kg, bila setiap warga mendapat setengah kilogram, maka dibutuhkan kira-kira 300 buah kantong plastik. Sedang sapi yang disembelih berjumlah puluhan ribu ekor. Tak terbayangkan berapa juta kantong plastik sekali pakai musti dibuang sia-sia dan mengendap di dalam tanah.

Memakai daun jati

Pengalaman penulis sebagai panitia kurban, ada cara yang lebih bijak, yakni menggunakan daun jati. Daun jati umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm; sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar di permukaan bawahnya.

Daun jati sering digunakan sebagai pembungkus nasi. Ukuran daun yang lebar, lentur, dan tidak mudah robek membuat daun jati paling baik untuk membungkus makanan. Di daerah Jamblang, Cirebon, daun jati digunakan untuk membungkus nasi jamblang. Sedang di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur ada yang memanfaatkannya untuk membungkus tempe. Daun jati juga masih dimanfaatkan sebagai pembungkus nasi berkat di daerah Batang, Jawa Tengah.

Kebetulan pohon jati (Tectona Grandis sp.) masih banyak ditanam di daerah Jawa. Penggunaan daun jati tentu sebuah alternatif dari penggunaan kantong plastik yang dikenal lebih praktis tapi tidak ramah lingkungan. Demi sebuah kelestarian bumi, penggunaan daun terbukti lebih bersahabat dengan alam sebab daun lebih mudah terurai di dalam tanah.

Satu lembar daun jati mampu menampung setengah kilogram daging. Agar lebih rapat, daging yang telah dibungkus daun jati diikat dengan karet gelang atau biting (tusukan yang terbuat dari bambu).

Alternatif lainnya adalah menggunakan daun pisang. Namun daun pisang jumlahnya amat terbatas. Satu batang pohon pisang hanya terdapat 5 sampai 8 lembar. Itupun tidak bisa kita petik semuanya, demi kelangsungan hidup pohon pisang. Pisang secara tradisional tidak dibudidayakan secara intensif. Hanya sedikit yang dibudidayakan secara intensif dan besar-besaran dalam perkebunan monokultur, seperti ‘Gros Michel’ dan ‘Cavendish’. Jenis-jenis lain biasanya ditanam berkelompok di pekarangan, tepi-tepi lahan tanaman lain, serta tepi sungai. Jadi untuk digunakan dalam jumlah besar, daun pisang bukan alternatif terbaik.

Bagi Anda yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan kurban, alangkah bijaknya bila beralih menggunakan daun jati mulai tahun depan, tinggalkan penggunaan kantong plastik. Sehingga setiap tahun dari penyelenggaraan penyembelihan hewan kurban kita tidak turut membebani bumi ini dengan sampah plastik.

Dengan daun jati hari raya Kurban jadi lebih khidmat, tanpa sampah plastik. Mari kita semua dorong upaya ini bersama-sama. Sebagai bagian dari misi agama sebagai rakhmatan lil ‘alamin (Islam yang memberi rahmat terhadap semesta).

Semua agama (termasuk Islam) musti berkontribusi terhadap lingkungan hidup. Bumi ini tidak tersekat-sekat oleh perbedaan agama. Bumi ini satu. Gerakan apapun dan dari siapapun amat bermanfaat bagi lingkungan hidup. Momentum yang baik ini hendaknya menjadi refleksi bagi kita semua. Sehingga perintah untuk tidak berbuat kerusakan menjadi gaya hidup umat.

Penulis: Akhwan J Saputra,
Pagiat di Sahabat Alam
Tinggal di Pekalongan.


Tanggapan

  1. Saran yang baik untuk diterapkan

  2. Terima kasih. Bumi ini membutuhkan kita semua. Mari berbuatlah melalui TINDAKAN.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.